Pertiwi Cup : Keseriusan PSSI dalam Sepakbola Wanita (?)


Lapangan C Senayan mendadak penuh, tawa dan teriakan terdengar jelas, riuh dan umpatan nyaring menggema . . . Bukan! Bukan timnas yang disaksikan disini. Sekumpulan skrikandi yang bertarung memperebutkan gelar sejati yang terkubur mati.

Pertiwi Cup yang sempat mati suri hingga empat tahun lamanya kini bangkit lagi. Menolak Lupa, negara ini pernah punya Galanita sebagai salah satu kompetisi sepakbola wanita, dan Putri Garuda pernah kita punya, menancapkan kukunya di Asia. . . . Tapi milenium baru menggulung itu semua bak ombak, tersapu bersih. Hanya sisa – sia dari semangat yang tetap ada di tepi pantai itu . . . Mulai dari klub – klub amatir, SSB khusus wanita hingga "pemerkosaan" timnas Futsal Putri pada 2013 lalu di ajang AFF Women’s Cup.

clip_image002

2014. Gong bertabuh. . .

PSSI bergegas, terpanggil FIFA yang meminta mereka tak melupakan wanita. Minoritas, seperti Kartini dengan bukunya, Exco Sepakbola Wanita dari FIFA sama kejamnya "menghardik" PSSI . . .

Lalu lahirlah "Pertiwi Cup" yang prematur dan (mungkin) serba kekurangan, bak bayi yang lahir hanya di ruang bersalin umum bukan Rumah Sakit khusus Ibu dan Anak . . .

Kira – kira itulah kerja PSSI, yang pada akhirnya menelurkan liga yang sekedar opini di September ini, walaupun sudah digembar – gemborkan sejak awal tahun. Sejak Kongres besar pasca Dualisme. Dari Palembang, dipindah ke Jakarta. Bahkan hampir tidak jadi.

clip_image003

APA YANG SALAH DARI PSSI ? Tidak ada, sebagai "orang tua" mereka sudah hebat melahirkan putri terkasih mereka bernama Pertiwi Cup ini. Namun, sepertinya salah nama… Jika dimimpikan sejak awal, PSSI ingin puteri semata wayangnya menjadi sebuah liga kompetitif sekelas Kakaknya yang sudah tiada, Galanita. Tapi apa daya, ketika disebut Liga malah lebih mirip Liga Champions Eropa (semi-cup). Mimpi mereka melahirkan sang buah hati di Palembang, harus tergusur hingga ibukota. 15 Peserta yang tampil di Kejurnas berlabel "Pertiwi Cup" tahun ini, kecantikannya mendekati sempurna… Andai tak ada pengunduran diri satu tim dari Sumatera Utara.

clip_image004

Ya. Optimisme itu lahir, tak hanya melihat aksi para pemain di lapangan, PSSI juga dapat melihat kinerja wasit dan asisten wasit wanita yang dipekerjakan di turnamen ini. Namun yang jadi refleksi bersama: "Bagaimana PSSI membesarkan puterinya ini?" akankah Dia ikut mati suri seperti Kakaknya, Galanita?

Antusiasme Saya

Sebagai seorang awak media bawah tanah, yang (serius) "menjalin kasih" dengan sepakbola wanita setahun belakangan ini saya amat antusias dengan turnamen ini, menyempatkan datang pada Sabtu lalu saya sempat melihat pertandingan D.I. Yogyakarta I vs Jawa Barat I yang berkesudahan dengan kemenangan tim D.I. Yogyakarta I 3 – 0, seperti yang saya beritakan via akun twitter saya @stevenkurus suasana di Lapangan C Senayan, Jakarta jauh dari kata hingar bingar, atau selayaknya kompetisi.

Mulai dari masuk tanpa tiket, walau tak bisa berbaur dengan sebagian besar penonton yang adalah sanak saudara dan teman – teman pelatih/pemain bahkan panitia. Awak media nampaknya juga samar – samar hadir disekitar saya. "Coba aja gw punya ID Card seengaknya aksesnya lebih mudah" celetuk saya dalam hati. Walhasil cuma bisa nonton dari pinggir *ya benar – benar di pinggir* lapangan, bersama dua teman yang baru saya temui disana Ipul dan Tri dari UNJ. Salah satu dari mereka bisa dibilang cem-ceman atau gebetan salah seorang pemain D.I. Yogyakarta hahahaha.. maka diakhir kunjungan saya di Sabtu pagi, saya menyempatkan diri untuk ngobrol bareng cewek yang berposisi sebagai kiper ini.

"Simpel saja, antusias gw karena ini negara gw, dan gw peduli. Gw pernah jadi pelatih tim futsal putri, banyak ngobrol soal sepakbola wanita secara global, bahkan ke orang – orang di luar negeri. Tetapi kapan saya bisa membicarakan negara saya sendiri pada mereka?"

"Kepincut" Kathrine Rohn

"Lho ini Steven ngomongin cewek lagi? . . ."

"Yasallam!"

clip_image005

Mungkin itu celetuk orang – orang yang biasa baca tumblr. ini hahahaha😀 Bukan cuma Kathrine (kanan) yang saya kenal belakangan ini.. Kenapa saya mau nonton Jawa Barat I bermain karena mau lihat aksi Danielle Daphne (kiri), gadis Jakarta berusia 14 tahun yang sempat ikut seleksi timnas U12 Indonesia yang bisa diperkuat putra-putri terbaik bangsa, bahkan latihan hingga ke "Negeri Sakura" Jepang.

Especially for Katie ciyee.. ciyee.. Keberadaan pemain keturunan Jerman ini memang coba gw kepoin, lantas benarkah ada sosok ini? atau hanya desas – desus tim Jawa Barat I mendatangkan talenta luar negeri.

"Tadi ada yang bule kan ya?.. yang keturunan"

"Iya mas, ada tadi dia, lumayan jago lah skill individunya" jawab Vera yang coba memberikan pengalaman sehabis bertanding.

Memang sejak awal saya memperhatikan no. 7, no. 12, dan no. 14 di tim ini. Seriously, akhirnya gw nonton ciwi – ciwi dengan ponytail ngelakuin trik – trik keren di atas rumput, seolah tarian yang indah dipandang mata. Sayang hanya bisa melihat dari kejauhan saja hehehehe…

Namun, hanya satu atau dua bintang tak membuat tim ini baik, deadlock sepanjang pertandingan dan monotonnya serangan membuat D.I. Yogyakarta unggul 3 – 0 atas tamunya dari barat Pulau Jawa.

Keadaan para Peserta

Berikut petikan wawancara saya dengan Vera, kiper D.I. Yogyakarta yang saya temui seusai pertandingan. Sosoknya yang mirip Hope Solo dengan ponytail dan yelling khas kala menjaga pertahanan tertarik saya ulas lebih dalam.

"Surat turun sebulan sebelum turnamen, persiapan sempet molor karena belum pastinya turnamen.

Kita juga baru hari Rabu berangkat dari Jogja naik bus, sampai di Jakarta Kamis. Jumat langsung main"

See? satu kritik dari sang portiere "Putri Keraton" soal kesiapan turnamen ini. Dan yang lebih parah lagi, sempat terlontar kata "sekalinya main, kayak tarkam gini.." merujuk pada kualitas rumput Lapangan C dan mungkin cuaca yang tidak terlalu baik.

"Kita sekarang tinggal di penginapan, di Keramat Sentiong punya Bantul dan Sleman, jadi kita pinjam dulu"

Perbincangan tak berjalan lama, hanya seputar turnamen saja. Kekagumannya pada tim-tim dari Papua memang tak bisa disangsikan. Sudah sejak lama "Mutiara Hitam" selalu menghasilkan bibit – bibit terbaik tanah air.

Tiga tim yang dimainkan, Papua Barat, Papua I dan II menjanjikan. Tim ini (Papua II) baru saja menggulung Jawa Tengah II di pagi hari (sebelum match yang saya tonton) 5 – 0. Sementara Papua I kemarin menghajar Riau 2 – 1 dan setelah match yang saya tonton, Papua Barat berhasil tahan imbang DKI Jakarta I 0 – 0.

Format Kompetisi

Saking enaknya ngobrol panjang lebar sampai lupa.. Yup! Pertiwi Cup dari 12 – 21 September 2014, masih ada waktu buat nonton mereka. Suporter Indonesia dan daerah masing – masing juga harusnya bisa nonton lho, mumpung gratis hehehehe. Ada dua sesi pertandingan per harinya: sesi pagi (08:00 – 09:20 dan 09:30 – 11:00) dan sesi sore (14:00 – 15:20 dan 15:30 – 17:00) hingga Rabu 17 September 2014 esok.. Dan tiap pemuncak grup berhak melaju ke semifinal yang sedianya dilaksanakan Jumat 19 September 2014 dan final pada Minggu 21 September 2014. Menarik bukan?

Sebagai penutup singkat.. Semoga saja mimpi PSSI membesarkan puterinya menuai sukses, Pertiwi Cup bisa eksis hingga tahun-tahun berikutnya dan imbasnya akan ada Tim Nasional Wanita Indonesia yang mumpuni. Semoga bisa membanggakan di Asia Tenggara, Asia, hingga Dunia! Dengan regulasi umur 17 – 25 tahun, saya harap Indonesia bisa ikut ambil bagian di Women’s World Cup 2019🙂 Au Revoir!

Steven Danis — Penulis saat ini adalah mahasiswa aktif S1 jurusan Filsafat di STF Driayarkara Jakarta, bercita – cita menjadi filsuf Sepakbola di Indonesia. Kontributor resmi @womensfootie_id untuk Sepakbola wanita Amerika Serikat dan Inggris. “Menjadikan sepakbola lebih dari sekedar permainan, namun sesuatu yang terus kekal untuk diperbicangkan.” Penikmat musik alternative-indie pop, rock, dan jazz, serta pemuja Chairil Anwar dan angkatan ’66. Berkicau di @stevenkurus || Tulisan disadur ulang dari website resmi penulis : http://www.stevenkurus.tumblr.com

7 thoughts on “Pertiwi Cup : Keseriusan PSSI dalam Sepakbola Wanita (?)

  1. Steven
    Artikel menarik. Pembinaan harus dari tingkat sekolah dasar. Kebetulan putri saya (Rebecca Kiting – Canberra United) bermain sepak bola putri di Australia sejak masih SD.
    Salam

    Tony Kiting

    1. waaah di Canberra, kebetulan W-League baru kick off juga pekan lalu ya dan Canberra menang 4-1 dari Western Sydney Wanderers

      Salam buat Rebecca dari semua komunitas penggemar sepakbola wanita di Indonesia

      cheers, Nino🙂

  2. Terima Kasih Mr. Tony atas seluruh apresiasi yang diberikan. Belajar dari pengalaman saya sebagai pelatih amatir tim putri, saya melihat perkembangan pemain putri di Indonesia banyak namun terbentur tradisi feminisme. Ini salah satu faktor penghambatnya. Salam hangat untuk putri Anda di Canberra United. Saya tahu iklim sepakbola di Australia lebih baik di Indonesia, jika ada kesempatan saya ingin berpergian kesana, utamanya juga untuk melanjutkan studi di bidang kepelatihan dan sport management. Salam hangat dari pengidola Harry Kewell sejak kecil, Steven Danis🙂

  3. Steven
    Di Australia sini biasanya untuk latihan sepak bola anak-anak (wanita juga pria) sampai di bawah umur sekitar 11an masih ditangani orang tua saja . Kalau si anak kelihatannya berbakat, terus biasanya ditarik ke akademi. Kalau di Canberra namanya ACTAS (Australian Capital Territory Academy of Sports), di NSW (NSWIS), di QLD (QAS) dll. Academy ini hanya sampai umur 15an. Latihannya 4 kali seminggu. Lembaga-lembaga ini dananya sebagian dari pemerintah, sebagian sumbangan orang tua. Academy ini ikut kompetisi mingguan di kota masing-masing. Yang bagus-bagus bisa dipanggil ke AIS (Australian Academy of Sports) tingkat nasional untuk memperkuat tim nasional Australia tingkat umur tertentu.
    Kebanyakan pemain-pemain top sepak bola Australia (laki ataupu perempuan) melewati jenjang ini. Tapi setelah AIS biasanya cabut ke Eropah.

    Putri saya juga ikut jenjang ini semua. Kemudian ikut Australian under 17, under 18, kemudian Young Matildas (U19), tapi kemudian dapat beasiswa ke USA.

    Itu saja sedikit keterangan dari saya. Sebenarnya Indonesia bisa seperti ini. Pertiwi Cup salah satu cara bagus menggiatkan program sepak bola perempuan di Indonesia, tapi kemudian harus ada follow-up nya. Mumpung masih anget.

    Tony

    1. Terima Kasih sekali Mr. Tony Kiting atas share pengalamannya. Dapatkah saya menggali banyak informasi dari Anda? Setidaknya saya bisa membagikan tulisan Anda ke orang” di Indonesia dan bahan pembelajaran saya sendiri….

      Ini adalah alamat surel saya, stev.flashkid@gmail.com amat senang untuk dapat ngobrol dengan Anda. Salam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s