Duka Spanyol, (untuk) Renungan PSSI


Iseng banget, gatel banget, mumpung ada sedikit waktu senggang, usai melaksanakan UTS di Kampus, akhirnya ada juga bahan yang untuk diulas sedikit . . . Padahal awalnya gw mau nulis review tentang 20 Pemain USWNT yang dibawa Jill Ellis ke turnamen CONCACAF 2014, eh tapi kayaknya bahasan ini lebih seru deh. Bahasan apa sih?

clip_image001

Tragedi Sepakbola (wanita) Spanyol

Ya, bagi yang sudah mengetahui tentang seluk-beluk sepakbola wanita di negeri Matador, pasti banyak mengelus dada. . . Melihat ketidakseriusan RFEF (Real Federación Española de Fútbol) dalam mengayomi sepakbola wanita di dalam tubuh mereka, beberapa daftar dosa yang paling kelihatan adalah soal Timnas dan Liga. Acap kali saya katakan (dalam beberapa post – terlebih di tumblr.) bahwa “Tim Nasional yang baik berasal dari Liga yang kompetitif”, ya memang Spanyol sudah menunjukkannya dalam sektor sepakbola pria, dan lama – lama kebosanan kita melihat duel Barcelona dan Real Madrid agak terobati di musim lalu (dan berharap musim ini) dengan kebangkitan Atletico Madrid dan Valencia CF.

Namun nampaknya, hal itu tak serta-merta menular di sepakbola wanita Spanyol. Sebagai gambaran, Primera División nya LFF (Liga de Fútbol Femenino) walau dinyatakan sebagai liga tertinggi acap kali tak mendapat cap sebagai liga profesional. Nah lho! Ditambah hanya ada beberapa orang yang mau mengurus sepakbola Spanyol, contohnya Ignacio Quereda melatih timnas sejak 1988 – kini, belum pernah sekalipun diganti walaupun Spanyol tidak berkembang secara maksimal.. Disaat USA sejak 2011 hingga kini sudah dua kali ganti pelatih, ia masih tetap  setia dengan ‘La Absoluta’ Hhhhhmmm… Hanya dua kemungkinan: Dia dibiarkan RFEF menangani Spanyol karena sudah tidak ada orang lagi yang mau posisinya, atau memang Quereda dianggap kredibel menangani Timnas (ya walaupun banyak keputusan kontroversial).

Beberapa dosa RFEF yang mungkin berimbas pada dua masalah diatas antara lain :

– NB: Catatan penulis ini karena penulis belum khatam betul sepakbola Spanyol (karena bukan lapak ane gan . . . Hahahaha) –

1. Inventaris kostum Timnas

clip_image002

Disaat tim nasional lain sudah menggunakan perangkat terbarunya, La Absoluta – yang sudah memastikan satu tempat di Women’s World Cup Canada 2015 untuk pertama kalinya – masih menggunakan jersey ini :’). Entah apa yang ada di pikiran RFEF yang tidak mengakomodir inventaris untuk tim ini. Bukan hanya soal penyamarataan baju seperti timnas Inggris atau Amerika Serikat, tapi coba teliti . . . . ITU KW !!! Kalau tidak percaya coba tengok baju away mereka juga. Astaga! Adidas Campeon 2013 (model kit tersebut) bukanlah baju Adidas Campeon 2013 yang digunakan tim pria, cek di bagian collar alias kerahnya. ‘La Absoluta’ menggunakan kerah sederhana, tidak kaku seperti yang dimiliki tim pria.

clip_image004

2. Tidak adanya kesadaran tim-tim La Liga mengakuisi tim wanita

Sudah kayak sarapan, masalah keuangan yang dihadapi tim-tim Spanyol, sampai mengakar hingga di tim wanita. Tak terhitung berapa klub yang membubarkan diri karena masalah financial. Kalau kita bertanya: Dimanakah para mega-sponsor klub La Liga? Ya, walaupun FCB Femeni disponsori sebegitunya oleh Nike, toh di Liga tetap main tanpa nameset kan? Atau bahkan kita bertanya-tanya mengapa Real Madrid tak serta merta mengakuisisi Madrid CFF.

Kalau melihat sistem yang ada di kebanyakan klub di Eropa khususnya, tiap tim memiliki tim Ladies atau Women’s nya sendiri contoh Liverpool Ladies yang bahkan punya stadion sendiri, terpisah dari Anfield – di Select Security Stadium, di Widnes dekat kota – (melihat perbandingan luas wilayah Spanyol dan Inggris tentunya tidak susah kan buka lahan di Spanyol?) atau bahkan mereka bisa memakai affiliated club system seperti yang terjadi di Amerika Serikat, dua klub peserta NWSL – Portland Thorns dan Houston Dash – dimiliki oleh klub MLS di domisili yang sama. Walaupun banyak klub yang “lahir” sendiri dan mandiri.

clip_image005

3. Pasrahnya RFEF terhadap kebobrokan Liga

Melihat screenshoot dari akun @womensfootie_id – tempat saya “sharing” sebagai kontributor resmi sepakbola wanita AS dan Inggris – tentunya agak miris melihat asosiasi sepakbola Spanyol sendiri pesimis dengan masa depan liga. Memang tidak bisa dipungkiri bakat-bakat Spanyol banyak berkembang di luar Spanyol seperti Veronica “El Magi” Boquete yang lebih banyak makan asam-garam sepakbola di Swedia dan beberapa negara lain, tapi bukankah lebih manis jika seorang pemain dapat bermain di negaranya sendiri?

Spanyol sendiri (khususnya bicara bahasa dan budaya) bisa ditemui di banyak daerah salah satunya di kaum urban Amerika, maka tak jarang justru para pemain yang memiliki lingua franca bahasa Spanyol akan memilih Amerika sebagai destinasi mereka. Ada pula yang menyebar di negara – negara lain sekitar Spanyol, seperti Inggris contohnya. Bristol Academy Women’s sendiri bahkan memiliki beberapa pemain dari Spanyol, Natalia Pablos contohnya. Ini membuktikan seakan: menelantarkan sebuah batu yang tak pernah digosok menjadi berlian, justru membiarkannya digosok orang lain. . .

 

Terasa di Indonesia

clip_image007

Mengapa saya berani menuliskan hal ini? Ya. Bagi saya hal ini sangat terasa di Indonesia. Baru saja usai “liga” nya cewek Indonesia . . . Pffttt! Ya. Walaupun ada rasa syukur kala PSSI sudah mau mengembalikan kembali kompetisi untuk sepakbola wanita, namun nampaknya persiapan untuk kompetisi terlihat serampangan, hal ini saya alami sendiri karena saya juga meliput dan datang ke turnamen ini disela kesibukan saya. Salah satu post saya : “Pertiwi Cup: Keseriusan PSSI dalam Sepakbola Wanita (?)” bahkan mendapat tanggapan positif dari seseorang di Australia, Om Toni Kiting – Papanya Rebecca Kiting, bek Canberra United (akrab nih yeeee…)

Masalah lain misalnya terjadinya malfungsi inventaris walau terjadi bukan di perangkat tim namun di tubuh tim itu sendiri, bagaimana sedihnya melihat tim futsal putri “diperkosa” hak nya untuk ikut di 2013 AYA Bank AFF Women’s Championship. Hasil Minor? IYA! Kalah dari Jepang! Myanmar! Filipina! bahkan .. Laos! Hhhhhmmmm, masa depan liga kita pun suram, takutnya sih Pertiwi Cup timbul-tenggelam kayak Galanita L dan masih sedikitnya orang – orang yang peduli terhadap kemajuan sepakbola wanita negeri ini …

Saya sendiri yang saat ini juga nyambi sebagai pelatih di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan menyadari kalau memang Indonesia memiliki banyak bakat. Namun, mengapa tidak diasah? Tercetus di pikiran saya kalau memang PSSI tidak mau ambil tanggung jawab:

“Kenapa tidak kirim tim Papua 2 yang notabene sebagai pemenang Pertiwi Cup 2014 untuk ujicoba di Australia (yang dekat) ? atau suatu saat nanti PSSI dan FFA bisa mencapai kesepakatan: ada satu tim dari Indonesia yang bermain di W-League (misalnya namanya Srikandi Women’s FC) seperti Wellington Phoenix yang menjadi satu-satunya klub asal Selandia Baru yang bermain di franchise league system, A-League.”

Sedikit gambaran sistem sepakbola wanita di Australia dikaitkan benar dari akar rumput pesepakbola – anak-anak – kemudian dibina di klub, tak jauh beda dengan Indonesia.

clip_image008

clip_image010

Bahkan orang asing sendiri percaya dengan kekuatan sepakbola Indonesia… woooooww!!! “Penduduk kita berjuta-juta, milih 11 orang buat main bola aja susah?” – My Mother, yang mengkritik sepakbola Indonesia. Saya beruntung dilahirkan dari rahimnya J

Semoga post ini jadi sentilan untuk PSSI, jangan sampai terlena seperti Spanyol yang hanya mengembangkan sepakbola di satu sisi, sepakbola milik semua insan, tua-muda, pemuda-pemudi, tanpa melihat latar belakang apapun. Salam #FootballForAll !! Demikian dari saya Steven Danis untuk Women’s Football Community Indonesia.

[ tulisan ini saya dedikasikan juga untuk Mr. Toni Kiting dan keluarga – salam hangat dari saya di Jakarta ]

** Penulis berdarah Flores – Jawa – Belanda, kelahiran Jakarta. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa aktif S1 jurusan Filsafat. Menganggap sepakbola bukan hanya sebagai permainan semata, melainkan sebuah science yang berguna membangun masyarakat, terlebih Indonesia. Kontributor resmi Women’s Football Community Indonesia untuk sepakbola Amerika Serikat dan Inggris sejak beberapa bulan kebelakang. **

One thought on “Duka Spanyol, (untuk) Renungan PSSI

  1. “Kenapa tidak kirim tim Papua 2 yang notabene sebagai pemenang Pertiwi Cup 2014 untuk ujicoba di Australia (yang dekat) ?

    Steven, ide yang sangat bagus. Mungkin bisa latihan sambil ujicoba melawan tim-tim Premier League (wanita) di Canberra. Saya bisa bicara dengan CEO Capital Football kalau memang PSSI tertarik. Pemain-pemain dari Indonesia yang bagus (mungkin) bisa mendapat kesempatan main di W League di Australia.

    Salam

    Tony

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s