ADA APA DENGAN FIFA ? – KRITIK TERHADAP NOMINASI PENEMERIMA PENGHARGAAN INDIVIDU DI SEPAKBOLA WANITA


FIFA nampaknya mengulangi kesalahan yang selalu saja sama setiap tahunnya, untuk sektor penghargaan indibidu di Sepakbola Wanita nampaknya FIFA masih mengecewakan para fans di hampir pelosok dunia. 1 Desember 2014 ini FIFA mengumumkan tiga nama masing-masing sebagai finalis penerima Women’s World Player of The Year dan Coach of The Year for Women’s Football, dan jauh sebelumnya, 24 Oktober 2014 FIFA telah mengumumkan 10 nama kandidat di masing-masing kategori.

clip_image001

Ada apa dengan FIFA ? Kritik saya tak terlepas dari komentar para fans yang “bahagia” sejak 24 Oktober lalu, FIFA seakan melupakan beberapa nama yang tampil baik di kompetisi masing-masing. Nampaknya, popularitas (pemain dan pelatih) masih bertahta dibanding pencapaian pemain lain yang notabene tidak terlalu popular. Mimpi buruk itu terjadi. Ya. 1 Desember kemarin daftar finalis menjadi kurang kompetitif.

clip_image003

FIFA WOMEN’S WORLD PLAYER OF THE YEAR NOMINEES – Muka Lama. Aksi Biasa.

Jika nama Messi mendominasi penghargaan serupa, Marta Viera da Silva adalah tokoh sama di penghargaan ini! Popularitas nya sebagai “Ronaldinho”nya sepakbola wanita memang sudah tersohor sejak sedekade ini. Sejak 2005, namanya selalu masuk nominasi peraih penghargaan ini. Runner-Up di penampilan perdana di Kongresshauss, dari 2006 hingga 2010 namanya tak absen sebagai pemenang. 2011 dan 2012 kembali menjadi runner-up dan 2013 berada di urutan ketiga. Bosan? Ya! Bagi banyak fans sekaligus pengamat namanya sudah tidak layak berada di daftar nominasi tahun ini. Walau dengan segala hormat mengantar Rosengard menjuarai Liga Swedia tahun ini, selebihnya Marta kurang berkontribusi beberapa tahun belakang.

Abby Wambach memiliki kemampuan luar biasa di depan gawang. Tidak diragukan. Bahkan tahun ini, Ia berhasil memecahkan rekor sebagai topskorer USWNT sepanjang masa mengalahkan beberapa legenda, seperti Mia Hamm dan Michelle Akers. Pemain yang sempat menjadi Player-Coach di magicJack F.C. di 2011 ini sudah mengemas 177 gol hingga 26 Oktober lalu. Masa keemasannya bersama USWNT adalah pada 2012, terbukti dengan gelar yang Dia raih di London sebagai penerima emas Olimipiade bersama duet sejatinya Alex Morgan. Keduanya berhasil masuk ke nominasi Women’s World Player of The Year 2012. Abby menang, Alex peringkat ketiga. Apakah Abby memenanginya tahun ini? Sebagai catatan, 2011 Ia menjadi peringkat ketiga. 2012 memenanginya sedang 2013 kembali menjadi peringkat ketiga. Penampilannya di NWSL biasa-biasa saja, apalagi berkutat dengan cidera dan kegagalan menghantarkan NWSL menuju babak Championship seperti yang mereka lakukan setahun sebelumnya sebagai runner-up Championship.

clip_image005Siapa yang layak diantara ketiganya? Nadine Keβler! Satu nama yang akan menjadi legenda di Jerman mengikuti Birgit Prinz dan Silvia Neid. Pemain kelahiran Landstuhl 4 April 1988 ini menikmati kejayaan bersama VfL Wolfsburg Frauen di musim 2013. Memenangi Frauen Bundesliga di musim 2012-2013 dan 2013-2014 serta UEFA Women’s Champions League di tahun yang sama bahkan membuat “Kessi” seharusnya menurut saya sudah menjadi pemenang tahun lalu. Terlebih, wanita yang tak pernah absen membela Tim Nasional Jerman sejak level U-15 hingga senior ini juga membawa Jerman memenangi UEFA Women’s Championship di 2013 lalu. Sayang, kompatriotnya, Nadine Angerer yang menjadi pemenang tahun lalu. Ini saatnya another Nadine yang menang? Ya! Dia sangat pantas! Apalagi gelar individu ini akan melengkapi gelar UEFA Best Women’s Player in Europe Award tahun ini.

KANDIDAT LAINNYA – Jelikah FIFA memilih mereka?

clip_image006

Ketimbang dua nama yang menjadi finalis sebelumnya, saya lebih memilih sosok Verónica Boquete dan Nahomi Kawasumi untuk mendampingi Nadine di tiga urutan teratas. Keduanya menjadi tulang punggung tim nya masing-masing. Keduanya baru saja datang ke NWSL, menimba ilmu di salah satu “sekolah” sepakbola wanita, Amerika Serikat. Kerasnya persaingan di sana juga sempat dirasakan Marta, Nadine Angerer, dan Aya Miyama—mereka yang juga turut hadir di daftar ini—bahkan pencapaiannya bisa lebih baik di musim début mereka.

clip_image008

“El Mago” atau “Si Pesulap”, julukan yang saya sematkan pada Verónica Boquete, mencicipi kerasnya NWSL setelah ditransfer dari FF Tyresö pada musim panas lalu, efek kehadirannya begitu terasa! Vero mampu mengangkat performa juara musim 2013 lalu, Portland Thorns FC, yang bermain tidak maksimal di musim ini karena kehilangan beberapa pemain kunci yang cidera maupun berlabuh di klub lain. Seattle Reign FC yang menjadi penguasa klasemen NWSL musim ini juga patut berterima kasih dengan kedatangan pemain asal Jepang, Nahomi Kawasumi. Pemain pinjaman dari INAC Kobe Leonessa ini telah mencetak 9 gol dari 20 penampilannya bersama Reign.

Diantara kesepuluh pemain yang menjadi kandidat awal, beragam kritik pantas dilontarkan. Oke lah untuk Aya Miyama yang berhasil membawa Jepang berjaya Berjaya untuk beberapa tahun terakhir. Atau, Nilla Fischer yang jadi kompatriotnya Kessi di Wolfsburg. Eks penerima penghargaan tahun lalu, Nadine Angerer, juga mungkin masih layak walau gagal membawa Thorns kembali menjadi juara musim ini karena gagal di fase Championship, emosi yang kerap meledak-ledak dan kontroversi kartu merahnya di NWSL juga menjadi faktor minus pemain yang kini dipinjamkan ke Brisbane Roar mungkin hanya puas sebagai kandidat saja. Bagaimana dengan Louisa Nécib dan Lotta Schelin? Popularitas kah? Okelah. Olympique Lyonnais Femenin memang menjuarai D1 Feminin di 2013-2014 lalu, namun selebihnya “Zidane” dan “Ljunberg” yang satu ini juga kurang greget di Eropa dan bersama tim nasional. Kredit mungkin diberikan bagi Nécib, yang keturunan Aljazair, yang mampu menjadi salah satu nominasi Puskás Awards tahun lalu.

clip_image010

Sejatinya, FIFA melupakan beberapa nama seperti Amy Rodriguez yang bermain luar biasa pasca cuti hamil dan lahiran untuk sang juara NWSL 2014, FC Kansas City. A-Mom juga menjadi top skorer untuk strata pemain lokal di kompetisi tersebut. Amy juga tetap tampil stabil bersama USWNT. Menanti aksi predator yang satu ini di Kanada 2015 nanti adalah sebuah hal wajib! Banyak nama.. Tak hanya Amy. Fara Williams (Liverpool Ladies and England), Kim Little (Seattle Reign and Scotland), atau Lauren Holiday (FC Kansas City dan United States), dan sejumlah bintang lainnya luput dari mata Sepp Blatter dan kawan-kawan. Perlukah Blatter kubelikan kacamata? Jelikah FIFA?

clip_image012

FIFA WORLD COACH OF THE YEAR FOR WOMEN’S FOOTBALL NOMINEES – Kellermann or Nothing!

Setali tiga uang dengan kejadian di sektor pelatih. Ya! “Kellermann or Nothing” judul diatas pantas disematkan untuk pria kelahiran Duisburg 46 tahun yang lalu ini. Eks kiper MSV Duisburg dan FSV Frankfurt menjadi sosok kunci dibalik dominasi VfL Wolfsburg Frauen di kompetisi lokal maupun Eropa, sejak menjadi pelatih profesional di 2008, Ralf Kellermann tidak pernah berganti seragam, Hijau dan Putih a la Wolfsburg, membangun tim dan memenangi dua gelar berturut-turut, kuasai Jerman dan Eropa!

clip_image013

MEREKA YANG TERSINGKIR – Semua sama hebatnya!

Ada yang bilang, Maren Meinert tak masalah masuk ke daftar itu, bahkan kata boss gw sendiri di @womensfootie_id hahaha😀 Tapi pandangan orang beda-beda kan? So. Jika FIFA menilai dari turnamen kelompok umur, Meinert tak sendiri. Peter Dedevbo (Nigeria U-20) dan Asako Takemoto (Jepang U-17) juga menjadi sosok kunci yang tak kalah penting. Mereka fantastis!

clip_image014

Namun nama Jorge Vilda, entrenador Spanyol U17 menarik perhatian saja. Spanyol, asal tahu saja, bukan negara yang lekat dengan sepakbola wanita secara baik. Nama Vilda muncul ditengah keringnya nuansa itu. Menarik melihat performa ‘La Rojita’ di Piala Dunia Wanita U-17 lalu, nama-nama seperti Nahikari Garcia, Nuria Garotte, dan Patri Guijarro Nampak menari-nari indah memaikan tiki-taka seperti yang jamak kita saksikan. Angkat topi buat Pria yang membawa Spanyol U-17 juara di ajang benua 2011 lalu!

Lain halnya jika melihat performa di ranah internasional. Norio Sasaki yang tampil apik bersama Jepang sejak 2011 memang tak perlu diragukan, mungkin Ia lebih baik ketimbang Philippe Bergeroo (Perancis) atau Pia Sundhage (Swedia) yang ada di daftar pula. Namun applause saya tertuju pada Martina Voss-Tecklenburg. Jujur, saya tidak akan pernah mendengar namanya andai fenomena ini tak terjadi … Apakah?

clip_image016

Wanita Jerman yang mengabdi pada Negara tetangga, Swiss, berhasil membawa Negara tersebut untuk tampil di Women’s World Cup untuk pertama kalinya sepanjang sejarah dan, status sebagai negara yang lolos pertama kali dari Eropa! Swiss berhasil memastikan diri lolos dari kualifikasi grup pada 15 Juni 2014, lebih dulu disbanding Jerman sekalipun. Swiss memang memiliki talenta berbakat macam Ramona Bachmann, Lara Dickenmann, atau Ana-Maria Crnogorčević. Namun, dibawah eks pelatih FCR 2001 Duisburg ini mereka tampil lebih garang!

Laura Harvey memang memiliki musim fantastis bersama Seattle Reign di 2014 ini, menjadi pimpinan pucuk klasemen sepanjang musim dengan rekor fantastis tak terkalahkan selama 16 pertandingan! Sayang rekor tersebut tak bisa membuat Harvey bernafas lega kala mereka kalah di Championship dari FC Kansas City. Harvey, eks pelatih Arsenal Ladies, memang lekat dengan piala di Inggris sana… “Namun, Ini Amerika nyonya” bukan rivalitas (mengingat saya adalah fans Portland Thorns hehehe) namun karena iklim sepakbola wanita disana lebih keras. Siapa yang bisa menaklukannya? Saluté saya sejak awal pada satu nama yang dilupakan FIFA dalam daftar ini. Vlatko Andonovski!

clip_image017

Pria berdarah Makedonia yang kini berkewarganegaraan Amerika Serikat ini memang menjadi sosok penting dalam dua musim NWSL. FC Kansas City dibawanya stabil menduduki posisi play-off Championship. Satu diantara keduanya menghasilkan gelar di musim ini mengalahkan Seattle Reign 2 – 1 di laga final akhir Agustus lalu. Tangan dingin Vlatko juga berhasil membentuk talenta muda macam Erika “Bunny” Tymrak, dan mengembalikan performa eks punggawa Seattle Reign, Amy Rodriguez yang justru membunuh mantan timnya sendiri. Selain melatih FC Kansas City, eks pemain futsal ini masih aktif melatih tim futsal Missouri Comets. Hahahahaha😀 #typicall. Jika dilihat, Vlatko tak sendiri… mungkin nama Matt Beard (Liverpool Ladies) juga masuk hitungan personal saya. Back-To-Back juarai FAWSL, bahkan dengan hasil dramatis yang mereka raih di detik-detik terakhir… Sekali lagi, Perlukah Blatter kubelikan kacamata? Jelikah FIFA?

Salam Bola!

Steven Danis – Mahasiswa aktif S1 jurusan Filsafat yang mencintai sepakbola sejak Ia membuka mata, berjalan, dan berlari mengejar bola sebagai seorang amatiran kelas kakap. Sosok dibalik www.stevendanis.tumblr.com dan bangku cadangan tim futsal puteri sebuah sekolah. Mencintai Sepakbola Wanita sejak 2012, terlanjut cinta akhirnya bergabung dengan @womensfootie_id sebagai contributor resmi Sepakbola Amerika Serikat dan Inggris, jadi reporter dadakan di event skala Nasional juga.. Satu hal pasti, berkicau di @stevenkurus terus mengkritik FIFA dan PSSI – Au Revoir!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s