Dua Kekalahan Beruntun, FFC Frankfurt Menemukan Masalah Yang Sebenarnya


csm_47318-frankfurt_bayern_b32b05381a

FFC Frankfurt mengalami dua kekalahan beruntun di Frauen Bundesliga. Setelah takluk dari Wolfsburg 2-0 di VfL Stadion, kini secara mengejutkan Die Frankfurterinnen ditaklukkan Bayern Frauen di kandang sendiri. Kekalahan ini membuat kinerja Colin Bell dan taktiknya kembali jadi sorotan utama seperti laga-laga sebelumnya sehingga Frankfurt terlempar ke urutan 4 klasemen Allianz Frauen-Bundesliga. Sebelum laga kontra Bayern pekan lalu, Bell pernah sesumbar kepada Kicker “Kami akan memenangkan laga dari Bayern.” Nyatanya Frankfurt harus mengakui keunggulan Bayern 1-2 di Brentanobad, sebuah periode yang buruk bagi Frankfurt saat ini. “Hal ini merupakan 45 menit terburuk sejak saya menangani FFC Frankfurt.” tegas Colin Bell kepada Kicker.

Sejauh ini Frankfurt sudah menelan kekalahan tiga kali, itu semua dari tim big three di Frauen Bundesliga (Turbine Potsdam, Wolfsburg, Bayern Frauen). Mereka tidak bisa menunjukkan apa yang mereka bisa lakukan ketika berhadapan dengan tim besar pada akhirnya mereka jatuh ditengah laga. Saat kalah 1-2 dari Bayern, hanya Bianca Schmidt, Vero Boquete dan Kathrin Hendrich yang mampu tampil maksimal selebihnya pemain lain tidak tampak wujudnya.

Frankfurt seolah-olah tidak memiliki game plan yang mumpuni, tidak ada semangat bahkan tidak ada niat untuk memenangkan laga dari tangan Bayern. Bicara soal Bayern, Frankfurt harus bertemu dengan Bayern lagi pada 21 Desember pada perempatfinal DFB Pokal Frauen. Sebuah tekanan buat anak asuhan Colin Bell ? Mungkin, karena Frankfurt memiliki fokus untuk memenangkan Liga Champions Wanita musim ini. Sebelumnya Frankfurt juga pernah memiliki masalah yang sama sejak tahun 2011 lalu sampai akhir musim 2012/2013.

Lalu lantas apa yang menjadi problem utama FFC Frankfurt saat ini, sampai tidak maksimal di Bundesliga ? Yang pertama menjadi sorotan adalah penampilan buruk Dzsenifer Marozsan akhir-akhir ini. Masalahnya Bell tidak punya nyali untuk membangkucadangankan pemain berusia 22 tahun ini. Marozsan akhir-akhir ini menurun tajam baik di FFC Frankfurt maupun di timnas Jerman, alasannya satu saja yakni ia sering diplot sebagai gelandang bertahan atau out of her main position as playmaker.

csm_45209-141116-_TSG_1899_Hoffenheim_-_1._FFC_Frankfurt-9310_462c4da2e4
Dzsenifer Marozsan saat kontra Hoffenheim spieltag 9

Tapi, sebenarnya hal itu bukan alasan utama. Simone Laudehr posisinya juga digeser sebagai bek tengah padahal posisi aslinya adalah gelandang serang, namun dibalik semua itu Laudehr masih bisa tampil impresif untuk Frankfurt. Lain lagi Ana Maria Crnogorcevic yang biasanya sebagai striker, tetapi di Frankfurt sebagai bek kiri, tapi sekali lagi Crnogorcevic tetap bisa tampil maksimal meskipun terkadang keputusan Colin Bell agak mengecewakan. Dan titik masalah yang sebenarnya di FFC Frankfurt ada di Dzsenifer Marozsan. Colin Bell jelas terlalu memberikan jaminan terhadap Marozsan untuk starting, ini jelas membahayakan Frankfurt. Bahkan pada laga penting sekalipun, Marozsan jarang sekali memberikan kontribusi positif. Bahkan Marozsan sering membuang peluang yang ada, sekalipun ia terkadang mencetak sebuah gol cantik, tetaplah bukan sebuah hitungan.

Kemudian masalah berikutnya adalah pilihan pemain belakang di skuad inti FFC Frankfurt. Sebenarnya FFC Frankfurt musim ini merekrut Laura Stoerzel dari SC Freiburg dan Marith Priessen dari Bayer Leverkusen. Akan tetapi, keduanya tidak pernah dimaksimalkan oleh Colin Bell dan justru lebih suka memasang Simone Laudehr sebagai bek tengah, kurang apa Priessen dan Stoerzel ? Seperti Priessen, musim lalu ia adalah bek tengah terbaik di Bayer Leverkusen. Ah, schade (sayang sekali) !  Mungkin sebenarnya keputusan Bell memasang Laudehr sebagai bek tengah adalah imbas dari cedera panjangnya Saskia Bartusiak. Absennya Saskia Bartusiak yang sudah lama menjadi andalan di posisi bek tengah FFC Frankfurt adalah sebuah kehilangan yang cukup telak.

Lalu membangkucadangkan Bianca Schmidt jelas merupakan kesalahan besar, ia justru merupakan bek sayap kunci dari FFC Frankfurt. Pada awal laga Frauen Bundesliga, Schmidt sudah dibangkucadangkan hingga pekan ke 11 Frauen Bundesliga atau kurang lebih selama 4 bulan lamanya. Awalnya itu terjadi karena Schmidt mengalami cedera saat pramusim bersama FFC Frankfurt, dan praktis membuat Colin Bell tidak memasang Schmidt sebagai starting utama Frankfurt sampai 4 bulan lamanya sampai ia pulih 100% pada Oktober ini, hal ini patut dipertanyakan. Dari line up utama FFC Frankfurt yang sudah berjalan pada 11 laga, di sektor pertahanan hanya 1 pemain yang murni berposisi sebagai bek. Hanya Peggy Kuznik yang menempati posisi aslinya di sektor bertahan sebagai bek tengah.

I33C1677
Desiree Schumann saat laga kontra MSV Duisburg

Dan yang paling fatal adalah saat Colin Bell memutuskan untuk membangku cadangkan Desiree Schumann tanpa alasan yang jelas dan lebih memilih Anke Preuss. Padahal Schumann selama membela FFC Frankfurt telah berkontribusi banyak sebagai penjaga gawang, dari awal saat menggantikan Nadine Angerer yang cedera pada musim 2011/2012. Belakangan ini memang Schuman baru saja pulih dari masalah lututnya tapi tetap saja tidak ada perubahan dalam posisi kiper. “Anke memiliki musim yang baik, Desiree juga membuat satu kesalahan lainnya dan kami selalu mendukungnya.” kata Colin Bell saat mengklarifikasi masalah itu lewat FR Online.  “Saat ini kami telah kebobolan 9 gol dari 11 laga dan itu tidak datang karena kiper.” tegas Bell pada 4 Desember ini kepada FR Online.

Colin Bell adalah orang yang harus disalahkan dibalik tiga kekalahan Frankfurt di Bundesliga. Dari pemilihan pemain, taktik serta fighting spirit. Bahkan Frankfurt terkesan main sendiri-sendiri atau individualistis dan tidak mencerminkan sebuah tim di setiap laganya. Kemudian General Manager FFC Frankfurt Siegfried Dietrich juga biang dibalik bobroknya skuad FFC Frankfurt akhir-akhir ini. Dietrich terkesan terlalu mencampuri keputusan Colin Bell dalam memutuskan skuad utama Frankfurt. Saat pertama Colin Bell menangani FFC Frankfurt, seperti slogan AXE “Kesan pertama begitu menggoda,” tapi setelah membawa Frankfurt meraih gelar DFB Pokal 2013/14 dan kembali ke Liga Champions Wanita musim ini kesannya sangat mengecewakan.

Jika ingin bangkit dari keterpurukan semacam ini, maka mau tidak mau Colin Bell harus mengubah taktiknya bahkan dari sisi pemilihan pemain di skuad utama. Lalu sudah waktunya Bell untuk memarkirkan Marozsan di bangku cadangan Frankfurt, karena rasanya kontribusi Marozsan sangat jauh dari kata memuaskan.

491739207
Bianca Schmidt saat Frankfurt memenangi DFB Pokal 2013/14

Kemudian mengembalikan peran Bianca Schmidt sebagai bek kanan seperti sebelumnya adalah hal yang tepat, karena kecepatan dari seorang pemain yang akrab disapa “Schmiddi” ini sangatlah diperlukan oleh Frankfurt untuk meretas masalah yang ada. Schmidt sebenarnya adalah aset paling penting untuk FFC Frankfurt sebagai salah satu fullback terbaik di Eropa khususnya, jika ia dilepas ke klub lain pada musim depan dimana kontraknya habis pada 2015 maka ini merupakan kesalahan fatal jika tidak segera memperpanjang kontrak Bianca Schmidt.

Kembali mempercayakan peran Desiree Schumann sebagai kiper utama adalah hal yang tepat. Sebenarnya Schumann merupakan salah satu kiper yang cukup baik bagi Frankfurt setelah hengkangnya Nadine Angerer ke Australia, yang berawal sebagai back-up dari Nadine Angerer. 2012 sampai 2013 lalu juga merupakan tahun untuk menunjukkan perkembangan Desiree Schumann sebelum jadi kiper utama Frankfurt.

IMG-20141208-WA0001
Marith Priessen tengah bersiap saat laga (c) @lena_h_25

Kemudian, berilah kesempatan untuk Marith Priessen bermain di posisi Saskia Bartusiak sebagai bek tengah, karena Priessen sebelumnya adalah bek tengah terbaik di klub lamanya Bayer Leverkusen. Jauh lebih baik daripada harus memaksakan Simone Laudehr bermain sebagai bek tengah, walaupun sebenarnya Laudehr merasa tidak keberatan soal itu.

Terakhir adalah dengan mengembalikan posisi Simone Laudehr ke posisi semula sebagai pemain tengah, dan Ana Maria Crnogorcevic sebagai penyerang. Karena sebenarnya Laudehr dan Crnogorcevic lebih baik ketika bermain di posisi asli mereka. Seperti waktu Bell mengembalikan Svenja Huth sebagai winger. Kini lupakan gelar Frauen Bundesliga musim ini, sudah waktunya bagi FFC Frankfurt untuk lebih fokus untuk mempertahankan gelar DFB Pokal dan mengejar gelar Liga Champions Wanita ke-empat bagi Frankfurt. So, What’s next Colin Bell ?

Retno Nino – Mahasiswa Vokasi Akuntansi Semester 5 di Universitas Brawijaya Malang yang mencintai sepakbola wanita. 2011 adalah tahun awal mengikuti sepakbola wanita sampai menemukan banyak relasi dari banyak negara, karena itu akhirnya menjadi founder di womensoccerid.wordpress.com dan co-founder dari @womenfootie_id di Twitter. Fokusnya terpusat pada sepakbola wanita di Jerman, Australia, BeNe League, Skandinavia dan Spanyol. Temui di @theMiniNino untuk lebih jauh dan berdiskusi soal sepakbola wanita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s