Anterior Cruciate Ligament : “Cedera Terkutuk”


10169_1

Miriam Dieguez (Barcelona), Cristina Pizarro (Real Sociedad), Noelia Aybar atau Rivi (Espanyol), Irune Murua dan Eztitzen Merino (Athletic Club), Patricia Mascaro (Rayo Vallecano) dan Claudia Zornoza (Valencia) memiliki kesamaan. Musim ini, mereka semua mengalami cedera robek di anterior cruciate ligament pada musim ini. Ini adalah cedera yang “mewabah” di sepakbola perempuan khususnya di Spanyol. Namun, Miriam Dieguez sudah mendapat lampu hijau untuk kembali merumput bersama Barcelona mulai akhir pekan ini.

MARCA tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menganalisis fenomena ini dengan seorang yang menjadi referensi dalam kasus ini seperti dokter Angel Villamor, ortopedi (ahli bedah tulang) dan direktur klinik “iQtra”. Dia menyoroti 2 faktor yang menjadi penyebab cedera ini di sepakbola perempuan.

“Perempuan lebih memiliki elastisitas (otot) daripada laki-laki. Ketika “kekakuan” (otot) ini memungkinkan lutut untuk “mengerem pada waktunya” pada saat berputar atau terjadi “impact” dengan tanah, (sebaliknya), pada perempuan, lutut “berputar tanpa batas”, otot otot menjadi penyebab terjadinya cedera ACL”katanya. “hyperextension atau recurvature (posisi tubuh seperti seorang model catwalk, yang tubuh bagian tengahnya lebih selaras dengan tubuh bagian belakang daripada pergelangan) membuat lutut para pemain menahan berat tubuh dan otot otot menjadi robek”, tambahnya.

Bagi dokter Villamor, “perempuan memiliki kecenderungan menderita cedera ini dan tidak ada cara untuk menghindarinya” (persentasenya adalah 1 : 4 ). Memperkuat bagian otot quadriceps untuk menghindarkan cedera lutut adalah sebuah kebohongan”. Ada penelitian yang mengatakan bahwa 50 % dari jenis cedera seperti ini terjadi di lapangan rumput alami daripada rumput sintetis. “(Hal ini terjadi) karena kelelahan yang dialami oleh otot karena terlalu banyaknya aktivitas (di lapangan)”, jelasnya.
Dokter yang berpengalaman lebih dari 2 dekade ini mengatakan bahwa ada banyak kemajuan yang terjadi dalam pengobatan cedera ini, melalui operasi arthroscopic. Meskipun tidak dianjurkan untuk kembali menjalani aktivitas olahraga hingga 6 bulan setelah operasi, sang dokter berkerjasama dengan sang pasien untuk melakukan pemulihan sejak 1,5 bulan setelah operasi. “Penyuntikan plasma yang mengandung “growth factor” dan fisioterapi akan membantu memperkuat dan mematangkan ligament yang baru”, kata dokter Villamor.

Walaupun sang dokter tidak menyebut bahwa “kedokteran bukanlah ilmu pasti”, statistik menunjukan bahwa 95% pasien akan kembali ke kondisi yang sama dengan sebelum menjalani operasi, sehingga mereka yang mengalami cedera hanya perlu menjalani pemulihan dan bersabar.

By: Wulan Kusuma Wardhani – Seorang karyawan swasta yang kebetulan adalah penggemar sepakbola. Tidak hanya tertarik pada permainan sepakbola itu sendiri, tetapi juga aspek-aspek sosial politik yang terkait dengan olahraga ini. Percaya bahwa sepakbola dapat menjadi sarana untuk mengkampayekan isu-isu sosial.

About Wulan

Rebel, sports lover, amateur goalkeeper, urban cyclist, feminist, and environmentalist. Media worker. Stubborn, outspoken, and sarcastic. I like travelling (on budget) and reading article or books about politics, history, sports, and environment. Contact : wulanlunablog@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s