Agueda Rodriguez: Seksime Tidak Menghentikan Antusiasme Saya


Red-Card

Seksisme adalah sebuah momok yang ada di sepakbola dan masih akan berlangsung lama. Insiden pelecehan verbal berbasis jender telah berlangsung di beberapa pertandingan terakhir di Cadiz, Melilla atau Granada. Dan sekarang yang menjadi korban adalah anak di bawah umur.

Cerita kelam ini terjadi pada hari Minggu (3 Mei 2015) di Armilla, sebuah kota dengan populasi 23.000 penduduk yang terletak hanya 4 kilometer dari Granada. Klub Arenas de Armilla dan Numancia berhadapan di sebuah pertandingan di ajang Copa Centenario Senior yang diselenggarakan oleh federasi sepakbola Andalusia. Pertandingan itu berakhir dengan skor 1-2 dan wasit yang memimpin pertandingan itu dihina, diserang dan ditakut-takuti.

Agueda Rodriguez berusia 17 tahun dan memutuskan untuk menjadi wasit sejak 2 tahun lalu setelah cedera anterior cruciate ligament dan meniskus di lutut kanannya tidak pulih dengan baik . “Sepak bola adalah segalanya bagi saya dan saya melihat ada cara yang baik untuk tetap terhubung dengan hal itu”, katanya.

Agueda mengetahui bahwa sosoknya sangatlah diragukan di lapangan hijau dan dia akan menjadi sasaran penghinaan dimanapun dia berada. “Seorang wasit terbiasa untuk berpura pura tuli menghadapi hinaan verbal yang diterimanya di dalam atau di luar lapangan”, katanya. Hingga kemudian terjadilah peristiwa di hari Minggu itu.

Itu adalah kesempatan pertama bagi Agueda untuk memimpin pertandingan di stadion Armilla. “Saya melakukan autokritik terhadap penampilan saya dan sejujurnya, saya rasa saya memimpin pertandingan dengan baik. Oleh karena itu saya tidak mengerti sikap permusuhan tim tuan rumah yang ditunjukkan selama dan setelah”, katanya.

Di pertandingan itu, dia harus mengusir pelatih tim tuan rumah karena melakukan penghinaan berat. Dari bangku penonton, suasana memanas dan penghinaan semakin dilancarkan tanpa henti : “Anda menyebalkan. Anda hanya berguna untuk membersihkan toilet”, adalah salah satu dari beberapa kalimat yang diterima Agueda, yang dituliskannya di laporan pertandingan.

“Saya didorong ke dinding terowongan stadion ketika masuk ke ruang ganti. Saya harus dibantu oleh asisten dan ibu saya ketika meninggalkan lapangan. Saya mengalami hal buruk. Saya takut. Ketika saya pergi ke ruang ganti, mereka terus menggedor pintu, jadi saya segera menyelesaikan laporan pertandingan dan keluar dari secepat mungkin”, lanjutnya.

Berdasarkan prosedur yang ditetapkan untuk kasus itu, Agueda membawa bukti bukti kepada Federasi Sepakbola Andalusia (RFAF). Presiden RFAF, Eduardo Herrera, telah memanggilnya untuk menenangkannya dan menunjukkan dukungannya. Setelah itu, Serikat Pekerja Wasit melaporkan kejadian itu kepada Komite Anti-Kekerasan dan kepada Komisi Perlindungan Anak.

“Saya tidak mengerti bahwa pihak klub Arenas de Armilla terus menyangkal fakta ketika ada begitu banyak bukti, baik bukti bukti mengenai ibu para pemain yang menghina saya ketika mereka mengetahui bahwa saya pernah menjadi pesepakbola seperti putri mereka, maupun bukti mengenai orang orang yang menghina saya melalui jejaring sosial tanpa mengenal saya. Saya mengalami hal buruk tetapi semua tindakan seksisme itu tidak akan menghentikan antusiasme saya terhadap dunia perwasitan dan sepak bola”, kata Agueda.

“Saya hanya ingin keadilan dengan segala hal yang telah melewati batas. Dan agar hal itu tidak terjadi lagi. Jika mempublikasikan kasus saya dapat menghindarkan terjadinya peristiwa semacam itu lagi maka hal itu akan membuat saya puas”, tambahnya.

Honor sebesar 27 euro yang diperolehnya untuk memimpin pertandingan bukanlah jumlah uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Hal itu adalah sebuah bentuk “penghinaan dalam bentuk lain” yang dialami oleh banyak wasit setiap pekannya. Banyak dari para wasit adalah anak di bawah umur dan perempuan, yang “tak berdaya”. “Dan itulah yang terjadi”, katanya.

Wulan Kusuma Wardhani (@csi_wulan)

Sumber : Marca.com

About Wulan

Rebel, sports lover, amateur goalkeeper, urban cyclist, feminist, and environmentalist. Media worker. Stubborn, outspoken, and sarcastic. I like travelling (on budget) and reading article or books about politics, history, sports, and environment. Contact : wulanlunablog@gmail.com

One thought on “Agueda Rodriguez: Seksime Tidak Menghentikan Antusiasme Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s