Menengok Rivalitas, Loyalitas, dan North West Derby dari kacamata Sepakbola Perempuan di Inggris


Beberapa jam lagi Liga Primer Inggris menggelar North West Derby atau Derbi Barat Laut antara Manchester United melawan Liverpool di stadion Old Trafford, Manchester. Dua klub laki-laki tersukses di Inggris ini merupakan salah satu magnet utama sepakbola Inggris terutama Liga Primer sendiri. Lantas apakah rivalitas keduanya tercipta pula di Women’s Super League 1 yang notabene menjadi liga tertinggi sepakbola perempuan di Inggris?

A-Manchester-United-fan-shows-her-support-before-the-Community-Shield-at-Wembley-Stadium-London

Sayangnya tidak, Manchester United sendiri menjadi salah satu klub yang belum memiliki tim perempuan mereka sendiri. Bahkan dapat dikatakan Manchester United adalah satu-satunya klub peserta Liga Primer Inggris 2015 – 2016 yang belum memiliki tim perempuan sendiri. Liverpool bahkan menjadi juara dalam dua edisi WSL 1 terakhir –ya Piala nampaknya menjadi kerinduan tersendiri warga Liverpool, apalagi kalau bukan tim laki-laki yang terakhir juara pada 1990 lalu– bersama Arsenal, Chelsea, Manchester City, dan Sunderland mereka menjadi penghuni WSL 1 tahun kompetisi 2015.

Sementara Everton, Aston Villa, dan Watford berada satu kasta di bawahnya yakni di WSL 2. Leictester City, Newcastle United, Southampton, Stoke City, Tottenham, West Ham United dan West Bromwich Albion berada di FA Women’s Premier League yang merupakan kasta ketiga dalam piramida sepakbola perempuan di Inggris. AFC Bournemouth bermain di Hampshire Women’s League Division 2 sedang Crystal Palace dan Norwich City di Women’s South East Combination League. Swansea City memiliki tim yang bermain di Women’s Welsh Premier League yang menjadi liga kasta tertinggi dalam piramida sepakbola wanita di Wales. Sementara Manchester United? Hanya memiliki tim di level Centre of Excellence atau setara dengan sekolah sepakbola untuk pesepakbola di usia dini (sebelum menjadi seorang profesional).

Manchester United yang menolak feminisme.

untitled
Hingga saat ini pihak klub berlogo setan merah tersebut masih enggan untuk meluncurkan tim utama perempuannya. Sama halnya seperti Real Madrid di Spanyol atau Borussia Dortmund di Jerman. Sebenarnya sah-sah saja jika sebuah klub tidak memiliki tim perempuan, itu semua tergantung kebijakan mereka … tapi apakah Manchester United tidak iri dengan klub-klub lainnya? Ataukah hasutan Florentino Perez di media beberapa waktu lalu tentang sepakbola perempuan yang tak menguntungkan benar adanya? Ah tidak juga …

Yang jelas hal itu membuat gerah para pemain yang menimba ilmu di akademi atau Centre of Excellence dari Manchester United. Salah satunya adalah Katie Zelem [lingkaran merah dalam gambar diatas] yang kini bermain untuk Liverpool Ladies sejak 2013 dan Natasha Flint [lingkaran biru muda dalam gambar diatas]  yang bermain untuk “tetangga mereka yang berisik”, Manchester City Women. Keduanya sendiri juga menjadi bagian dalam skuad Inggris di usia muda, terakhir mereka berjibaku bersama di Piala Dunia Perempuan U20 di Kanada 2014 lalu, sedangan Katie kembali dipanggil untuk melakoni Kejuaraan Eropa U19 di Israel beberapa waktu lalu dan Natasha yang sudah naik kelas bersama tim Three Lionesses di kelompok usia U23. Sebenarnya Manchester United memiliki banyak talenta jika saya mengembangkan tim utama bermodalkan pemain-pemain dari Centre of Excellence mereka.

Kepergian Katie dan Natasha sendiri menjadi sesal mendalam nampaknya … apalagi tahun ini Liverpool Ladies menambahkan dua pemain baru yang bermain untuk Development Squad mereka (semacam tim reserves) yakni Emily Bradshaw dan Serena Fletcher. Lunturkah aroma North West Derby di mata sepakbola perempuan? Harus diakui iya.

Loyalitas dan Rivalitas semu.

Natasha Flint
Dalam sepakbola loyalitas dan rivalitas selalu menjadi hal seru untuk dibicarakan, namun melihat kasus kedua pemain “Setan Merah” yang menyebrang ke rival abadi klub apakah ini menandakan Loyalitas dan Rivalitas semu dalam sepakbola perempuan? Bisa “ya” dan bisa juga “tidak”. Katie dan Natasha tidak bisa disalahkan untuk hal semacam ini, apalagi mereka butuh klub untuk meneruskan karier profesionalnya selepas lulus dari Manchester United Centre Of Excellence.

Everton Ladies FC v Liverpool Ladies FC
Everton Ladies FC v Liverpool Ladies FC

Matt Beard yang melatih Liverpool Ladies sejak 2013 melihat potensi dalam diri Katie dan langsung memboyongnya ke Halton Stadium tanpa piker panjang, pemain kelahiran Oldham 19 tahun yang lalu ini pun mengiyakannya. Toh jarak Manchester dan Liverpool tak terlalu jauh bukan … walau demikian Katie dapat dikatakan seorang “Manchunian” ketika perayaan kemenangan liga tahun lalu Ia tertangkap kamera tak ikut bernyanyi “You’ll Never Walk Alone” bersama rekan-rekan lainnya. Lain halnya dengan Natasha yang menjadi bagian utama Manchester City Women yang saat itu membangkitkan kembali tim perempuan mereka untuk berlaga di WSL 1 tahun 2014.

e

Jika anda mengenal sosok Gemma Davison, sosok ini bahkan dapat merepresentasikan “tak ada loyalitas di sepakbola perempuan”. Bagaimana tidak, bermain bersama Arsenal Ladies sejak lama (2005-2008, 2008-2009, 2009-2010, 2012-2013) Ia memutuskan hijrah ke Liverpool Ladies dan membantu tim yang dikomandoi Gemma Bonner memenangkan WSL 1 dua kali berturut-turut di tahun 2013 dan 2014, musim ini dia membela panji Chelsea Ladies yang sedang ada dalam “jalur yang benar” menuju juara WSL 1 tahun 2015.

Apakah loyalitas dan rivalitas tak sebegitu penting untuk para pesepakbola wanita Inggris? Tidak juga. Daripada meributkan soal klub masing-masing toh mereka tetap berteman satu sama lain baik di luar lapangan. Mereka mungkin akan bersatu sebagai Loyalis untuk memperjuangkan Sepakbola Perempuan yang lebih baik di tanah Ratu Elizabeth! Sebagai mana diketahui, klub perempuan pertama di dunia terlahir di Preston … Dick, Kerr’s Ladies Football Club yang berdiri 1920. Mereka bersatu melawan banyak pihak yang masih menganggap rendah sepakbola perempuan, khususnya di Inggris. “Our rivals isn’t our friends who play football together with us … “ mungkin begitulah kata mereka. [sd]

One thought on “Menengok Rivalitas, Loyalitas, dan North West Derby dari kacamata Sepakbola Perempuan di Inggris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s